News

11 Unit Vent-I Siap Uji Klinis di 11 Rumah Sakit

11 Unit Vent-I Siap Uji Klinis di 11 Rumah Sakit di Bandung Raya

Alhamdulillah, setelah melalui serangkaian proses panjang dalam pengembangannya mulai dari uji performance secara internal, kemudian uji fungsi oleh Balai Pengamanan Fasilitas Kesehatan Jakarta (BPFK-Jakarta) Kemenkes. Ventilator Indonesia (Vent-I) karya anak bangsa akhirnya memasuki tahap uji klinis, yang artinya Vent-I semakin dekat untuk benar-benar siap digunakan oleh pasien COVID-19.

Kamis, 30 April 2020 kemarin sembilan dari sebelas unit Vent-I telah disalurkan dalam rangka serah terima Vent-I untuk uji klinis di 11 Rumah Sakit yang ada di Bandung Raya. Rumah sakit tersebut diantaranya RS Dr. Hasan Sadikin Bandung, RSUD Kota Bandung, RSKIA Kota Bandung, RSUD Al-Ihsan Bandung, RSUD Cibabat Cimahi, RS Dustira Cimahi, RS Advent Bandung, RS Al Islam Bandung Santosa Hospital Bandung, RS Muhammadiyah Bandung, dan RS Paru Dr. H. A Rotinsulu.

Penyaluran Vent-I untuk uji klinis ini dilaksanakan oleh tim distribusi dari Rumah Amal Salman yang terbagi menjadi dua tim yang menyebar ke sembilan rumah sakit tersebut. Klinisi dari beberapa rumah sakit yang sempat mencoba alat secara langsung saat proses penyaluran mengaku tidak begitu kesulitan dalam mengoperasikannya.

Menurut dr. Reza Widianto Sudjud (Sekretaris PERDATIN Jawa Barat yang juga merupakan Supervisi pada saat uji klinis dan ikut mendampingi dr. Ike Sri Redjeki sebagai koordinator uji klinis Vent-I yang ditunjuk oleh Kemenkes) alasan pemilihan 11 Rumah Sakit tersebut selain karena merupakan rumah sakit rujukan pasien Covid-19 di Jawa Barat, 11 rumah sakit tersebut juga ditunjuk secara langsung oleh Kemenkes.

Read More →

News

Kapan Lolos Uji?

Banyak yang menanyakan ke saya kapan Vent-I lolos uji dari BPFK (Balai Pengamanan Fasilitas Kesehatan), Kementrian Kesehatan? Mereka tidak saja para donatur yang sudah mentransfer dananya, tapi ada pula calon donatur yang ingin segera mentransfer dananya setelah Vent-I lolos uji. Semuanya ingin Vent-I segera lolos uji BPFK dan diproduksi massal, karena korban meninggal akibat Covid-19 semakin hari semakin bertambah. Kalau Vent-I segera lolos uji dan dan diproduksi, siapa tahu bisa membantu mengurangi angka kematian yang terus bertambah ini…

Tentu saja tim Vent-I pun punya keinginan yang sama. Tim dokter yang terlibat dalam pengembangan Vent-I pun ingin segera memakai alat ini, karena kebutuhan di lapangan memang sudah sangat mendesak. Tetapi karena alat ini menyangkut nyawa manusia, keadaan sedarurat apapun tidak dapat dijadikan alasan untuk mem-by pass prosedur uji. Proses uji harus dilakukan dengan tertib, agar tidak menimbulkan masalah yang tidak perlu.

Menyaksikan proses uji di BPFK kemarin membuat tim Vent-I deg-degan. Karena status PSBB, hanya 2 orang anggota tim yang ikut proses uji. Anggota yang lain hanya bisa mengikuti proses uji secara remote lewat aplikasi virtual meeting. Tidak semua dialog selama proses uji yang dapat diikuti dengan jelas semakin membuat anggota tim deg-degan. Akankah Vent-I lolos uji?

Syukur alhamdulillah hasil uji kemarin berhasil dengan cukup baik. Terima kasih kepada tim BPFK yang telah melakukan proses uji dengan baik. Fungsi ventilator CPAP (Continuous Positive Airway Pressure) berjalan dengan baik. Semua parameter yang diukur juga menghasilkan angka yang konsisten sesuai dengan spesifikasi disain. Laju aliran udara, laju aliran oksigen, laju aliran campuran, tekanan campuran dan kadar oksigen semuanya terukur secara konsisten sesuai dengan disain. Syukur alhamdulillah, kerja keras tim siang dan malam selama beberapa minggu terakhir berbuah manis. Harapan agar Vent-I segera lolos uji semakin membuncah…

Apakah dengan demikian Vent-I otomatis lolos uji?

Read More →

News

Berbagi Cerita Progress Akhir Vent-I

Jumat (24/7/2020), beberapa wajah yang tak asing dalam jajaran utama pengembang Vent-I berkumpul di halaman Masjid Salman ITB dalam acara bertajuk “Berbagi Cerita Progres Akhir Vent-I”. Kegiatan ini digelar oleh pembina YPM Salman dalam rangka mempertanggungjawabkan pengembangan dan produksi Vent-I hingga kini yang dapat berjalan dengan dana dari masyarakat yang terhimpun tak kurang dari 12,5 milyar.

“Vent-I ini bukanlah karya ITB, melainkan karya bangsa.” Demikian Dr. Syarif mengingatkan dalam pidatonya. Beliau juga menyampaikan terima kasih atas nama bangsa Indonesia kepada tiga lembaga utama yang berkolaborasi dalam pengembangan Vent-I, yakni ITB, Unpad, dan YPM Salman.

Kolaborasi ketiga lembaga tersebut dapat melahirkah Vent-I dengan berbagai versi pengembangan. “Untuk versi yang terakhir, akan dibuat ventilator yang dapat berjalan secara otomatis. Versi ini membutuhkan satu komponen yang diperebutkan seluruh dunia yang harganya saat ini sudah melambung hingga empat kali lipat, yaitu sensor tekanan.” ujar Dr. Syarif.

Dr. Syarif juga menyampaikan terima kasihnya kepada beberapa nama yang telah berperan dalam Vent-I seperti Jam’ah Halid, Ir. Sri Raharno, Dr. Sandro Mihardi, Prof. Trio Adiono, Adi Indrayanto, Prof. Suhardi, Ir. Hari Utomo, Ir. Mipi, dr. Reza, dr. Ike, dan masih banyak lagi. “Dulu saya sebagai insinyur tentu ingin membuat ventilator yang canggih. Tetapi, dari saran dr. Ike, kita hanya perlu fungsi dasar ventilator, yakni CPAP. Makanya saya membuat ventilator yang sederhana.” Demikian cerita Dr. Syarif. Beliau juga menyampaikan kepada dr. Ike bahwa saat ini tengah dikembangkan ventilator HFNC sebagai pengembangan selanjutnya.

Sesi talkshow bersama inventor Vent-I (mas Syarif) dan koordinator tim konsultasi medis (dr Ike) : dokumentasi tim media Vent-I

Perjuangan mereka takkan berhenti di sini. Pandemi COVID-19 telah memberi mereka modal sosial dan kepercayaan masyarakat yang besar. Dengan modal ini, YPM Salman berniat untuk terus mengembangkan teknologi terutama di bidang kesehatan. Dr. Syarif menyampaikan bahwa ke depannya mereka akan mengembangkan teknologi dengan kolaborasi bersama dokter gigi dan dokter anak.

Acara ini turut disambut oleh pihak-pihak yang terhubung melalui video seperti Prof. Reini D. Wirahadikusuma selaku rektor ITB, Prof. Rina Indiastuti selaku rektor Unpad, Prof. H. Hermawan K. Dipoyono selaku Pembina YPM Salman, Restu Destry Damayanti dari Bank Indonesia, Una Lindasari dari PT BUMA, Hasan Fawzi dari Bursa Efek Indonesia, dan Dr. Ir Ridwan Djamaluddin selaku ketua Ikatan Alumni ITB.

Read More →

Uncategorized

Bahu-membahu Melahirkan Vent-I

COVID-19 yang dikatakan sebagai musibah yang menimpa dunia ternyata malah menjadi batu loncatan bagi siapa pun yang mau memanfaatkannya. Anak-anak bangsa kita sudah membuktikannya. Dengan bergotong royong melalui sistem yang terintegrasi, lahirlah teknologi Vent-I yang dapat membantu banyak orang. Bagaimanakah sistem yang terintegrasi ini berjalan?

Proses Produksi Vent-I di Gedung Serba Guna (GSG) Masjid Salman ITB

ITB, Unpad, dan Salman ITB sudah sering disebut sebagai inventor Vent-I. Ini saatnya mengenalkan pihak-pihak yang turut serta dalam kolaborasi ini. Mereka berkolaborasi sebagai tim produksi untuk menghasilkan Vent-I skala masal. Mereka adalah Polman, Polban, PT DI, PT Pura, Universitas Nurtanio, dan SMK.

Produksi Vent-I dimulai dari proses desain di tim penelitian dan pengembangan (research and development, R&D). Di sini, Dr. Syarif selaku ketua tim Vent-I kerap mencetuskan ide-idenya untuk mengembangkan Vent-I. Sementara, keseluruhan produksi diketuai oleh Bapak Yogie dari Polman. Saat ini, sudah ada tiga desain hasil pengembangan Vent-I dari waktu ke waktu.

Setelah desain selesai, akan dibuat pemetaan seluruh komponen dan proses manufakturnya. Biasanya, ada komponen yang sudah menjadi standar dan dijual bebas, ada pula yang harus dibuat sendiri melalui vendor. Komponen-komponen kemudian dikumpulkan di inventory yang memanfaatkan ruangan kantin Salman ITB. Di sini, akan dilakukan pengecekan kualitas untuk selanjutnya dikirimkan kepada tim perakitan.

Peoses Produksi Vent-I di POLMAN

Tim perakitan terbagi di Polman, Polban, PT DI, dan PT Pura. Polman dan Polban sebagai perguruan tinggi menggerakkan teknisi dan mahasiswanya sebagai tenaga kerja. Proses perakitan dimulai dari penyiapan casing. Perlu dilakukan pelubangan casing untuk mounting komponen-komponennya. Selanjutnya, dilakukan perakitan mekanik, elektrik, dan bila sudah selesai, kualitas alat dikontrol. Proses produksi diakhiri dengan running test selama 10 menit. Bila berhasil, ventilator akan dikirimkan ke Salman ITB.

Di Salman ITB, akan dilakukan kontrol kualitas. Hal-hal yang perlu dikontrol meliputi kelengkapan komponen dan performa. Bila kualitas sesuai, ventilator akan masuk ke proses kalibrasi untuk diatur tekanan kerjanya sesuai yang diharapkan. Bila tidak sesuai, akan dilakukan perbaikan. Setelah selesai, ventilator akan disterilisasi dan dikemas. Alat sterilisasi ini didukung oleh Biofarma.

Proses Produksi Vent-I di POLBAN

Selain kontrol kualitas dan kalibrasi, di Salman ITB juga dilakukan perakitan komponen elektrik seperti perakitan PCB dan penggabungan PCB dengan harness. Di Salman ITB sendiri selain mahasiswa ITB yang sudah bergabung sejak awal perjalanan Vent-I, pada tahap produksi masal juga melibatkan mahasiswa Polman, Polban, Universitas Nurtanio, dan relawan dari Asrama Salman. Bahkan, untuk proses penyolderan PCB, SMK turut terlibat.

Selain kantin Salman, ruangan lain di Salman ITB juga dirombak menjadi ruang produksi Vent-I. Ruangan ini meliputi Gedung Serba Guna (GSG) yang digunakan sebagai tempat kontrol kualitas, kalibrasi, sterilisasi, perbaikan, dan pengemasan. Selain itu, empat ruang Gedung Sayap Selatan digunakan untuk proses desain, mekanik, R&D, dan perakitan.

Rata-rata, total sebanyak 30 – 40 unit Vent-I diproduksi setiap harinya. Hingga saat ini (11/07/2020), sudah sekitar 815 unit selesai dirakit dan 185 unit dalam proses perakitan.

Banyak pihak bahu-membahu bergerak karena COVID-19. Bahkan, banyak masyarakat dan perusahaan turut berdonasi demi terciptanya Vent-I. Rumah sakit bisa mendapatkan Vent-I secara cuma-cuma karena donasi mereka. Apakah gotong royong ini bisa kita pertahankan hingga setelah COVID-19 selesai? [Arsyad]

Read More →

News

Daarut Tauhid Siap Salurkan Vent-I

Kamis (02/07/2020), Aa Gym yang menjadi tuan rumah Masjid Daarut Tauhid Bandung menerima tamu silaturahmi yang tidak biasa. Mereka adalah Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) dan Dr. Syarif Hidayat dari ITB. Dalam perjumpaan kali ini, BPKH menitipkan ventilator Vent-I sebagai bentuk kepeduliannya dalam mengatasi musibah COVID-19.

Sebanyak sepuluh ventilator diproduksi untuk kemudian diserahkan kepada Daarut Tauhid dan akan didistribusikan kembali. Dalam program DT Peduli ini, Daarut Tauhid menargetkan rumah sakit rujukan COVID-19 di daerah Jawa Barat menjadi penerima ventilator tersebut.

“Mengenai isu kesehatan masyarakat, kami memiliki kepedulian dalam bentuk sumbangan ventilator ini. Terlebih lagi, ventilator ini merupakan karya anak bangsa.” ujar Dr. Yuslam Fauzi. “Meningkatkan kemaslahatan umat.” lanjutnya.

Hingga saat ini, ventilator ini merupakan bagian dari 487 unit (09/07/2020) yang telah didistribusikan. “Menurut statistik, sepertujuh dari yang dideteksi perlu masuk rumah sakit dan sepetiga dari itu perlu alat bantu pernapasan.” Demikian penjelasan Dr. Syarif menanggapi pertanyaan dari Aa Gym soal Vent-I.

Melalui ventilator ini, Dr. Syarif juga menitipkan harapannya. “Kalau tidak menggunakan alat bantu pernapasan, kondisinya akan terus memburuk dan tidak akan tertolong meski menggunakan alat paling canggih. Harapannya, ventilator sederhana ini mencegah pasien memasuki stadium lanjut.”

“Apakah ventilator ini dapat dibeli Pak?” Demikian Aa Gym bertanya kepada Dr. Syarif. “900 lebih unit Vent-I yang sedang diproduksi ini statusnya sudah dibeli oleh masyarakat.” Sebanyak total 700 unit yang sudah diproduksi dari target keseluruhan 900 lebih unit hingga saat ini merupakan titipan masyarakat, sehingga tim harus menyalurkan Vent-I secara gratis. Dr. Syarif kemudian menyampaikan bahwa pada akhir Juli mendatang produksi Vent-I telah selesai dan tim sudah siap untuk melakukan pertanggungjawaban.

Silaturahmi kali ini pun tak lepas dari pesan-pesan Aa Gym seperti biasanya. “Semoga dengan menolong, kita akan ditolong oleh Allah. Allah senantiasa menolong orang yang suka menolong.” Demikian pesan penutup beliau pada perjumpaan kali ini. [Arsyad]

Read More →

News

BPFK Tinjau Proses Produksi Vent-I

Balai Pengamanan Fasilitas Kesehatan (BPFK) kunjungi tim Vent-I pada Selasa (30/06/2020). Kunjungan ini dalam rangka melihat dan meninjau proses quality control dan kalibrasi dalam proses produksi Vent-I.

BPFK tinjau proses produksi Vent-I di Masjid Salman ITB

Kunjungan dimulai di Masjid Salman ITB dengan dipandu langsung oleh ketua tim Vent-I, Dr. Syarif Hidayat. Dr. Syarif mengajak BPFK berkeliling ke tempat-tempat produksi Vent-I yang meliputi ruangan Gedung Serba Guna (GSG) dan Gedung Sayap Selatan (GSS) Masjid Salman ITB. Dalam proses produksinya, ruangan ini berfungsi sebagai tempat kontrol kualitas, kalibrasi, sterilisasi, serta penelitian dan pengembangan. Selama tur, Dr. Syarif dan Ir. Mipi menjelaskan mengenai berbagai versi pengembangan Vent-I.

Lembaga yang berfungsi menguji fasilitas kesehatan ini bukan kali pertamanya berkunjung ke Masjid Salman ITB. April lalu, BPFK hadir dalam rangka melakukan pengujian Vent-I untuk pertama kalinya. Dalam keberjalanannya, proses produksi Vent-I harus tetap teruji dan terstandar. “Saat ini sudah di taraf produksi dan quality control. Sangat bagus dan saya sangat terkesan dengan proses di workshop Salman ITB.” ujar dr. Prastowo Nugroho, kepala BPFK Jakarta

BPFK tinjau proses produksi Vent-I di Polman

Tidak hanya menghadiri Salman, BPFK juga mengunjungi tempat produksi Vent-I lain di Polman. Kali ini, kepala BPFK ditemani oleh Yogie yang mengetuai tim produksi. Dalam tur kali ini, tim produksi di Polman tengah menjalankan aktivitas produksi seperti biasanya. Di antara tempat produksi lain, Polman memiliki skala produksi paling besar karena menargetkan hingga 500 unit.

“Harapannya di kemudian hari tidak hanya sampai di ventilator.” pesan Prastowo Nugroho yang menutup kunjungannya kali ini. [Arsyad]

Read More →

News

Vent-I Didistribusikan ke Rumah Sakit

Bagaimana Vent-I Sampai pada Pasien?

Hingga sebelum pandemi COVID-19, Indonesia belum mampu memproduksi ventilator sendiri. Rumah sakit mencukupi kebutuhan ventilatornya dari impor, sehingga harganya dapat mencapai ratusan juta. Padahal, di tengah pandemi ini, rumah sakit harus menyediakan ventilator dalam jumlah banyak. Dengan hadirnya Vent-I hasil kreasi ITB, Unpad, dan YPM Salman ITB, kini rumah sakit bisa mendapatkan ventilator secara gratis. Lantas, bagaimanakah ventilator karya anak bangsa ini bisa sampai pada pasien?

Serah Terima Vent-I

Vent-I dapat membantu banyak pasien di seluruh Indonesia berkat tim distribusi yang diketuai oleh Ir. Hari Utomo. Hingga Kamis (25/06/2020), sudah ada sebanyak 264 unit Vent-I yang didistribusikan di seluruh Indonesia, tepatnya di Provinsi Jawa Barat, Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, Kalimantan Timur, Sumatera Utara, dan Sumatera Selatan. Distribusi Vent-I masih terkonsentrasi di Pulau Jawa karena merupakan episentrum penyebaran COVID-19, terutama Jakarta dan Jawa Timur. Untuk ke depannya, distribusi Vent-I akan dilakukan dengan lebih merata di seluruh Indonesia.

“Banyak yang berdonasi, baik dari pihak perusahaan maupun individu karena Vent-I ini sangat bermanfaat. Covid ini berbahaya dan menular sangat cepat. Karena itu, mereka ingin membantu.” Demikian papar Ir. Hari yang menjelaskan bagaimana Vent-I dapat tersalurkan secara gratis. Donasi yang ditampung hingga saat ini telah mencapai angka di atas Rp10 milyar. Dengan pendanaan sebesar itu, sebanyak 900 unit Vent-I siap untuk diproduksi.

Tim distribusi mengurusi proses dari sterilisasi alat, pendataan rumah sakit, pengemasan, pengiriman, sampai follow up pihak rumah sakit yang telah menerimanya. Sterilisasi diperlukan untuk menjaga Vent-I bebas virus dan bakteri. “Jangan sampai Vent-I ini malah membawa virus baru kepada pasien.” ujar Fajar Siddiq, salah satu tim distribusi. Selanjutnya, dilakukan pengemasan untuk menjaga Vent-I tetap aman selama pengiriman.

Tim tidak sembarangan memberikan Vent-I kepada rumah sakit mengingat jumlahnya masih terbatas. Oleh karena itu, perlu dilakukan pendataan. Tim distribusi memanfaatkan informasi dari pemerintah terkait wilayah yang benar-benar sedang membutuhkan. Dari sana, dapat diketahui rumah sakit mana saja yang mungkin dapat menerima bantuan Vent-I. Saat ini, rumah sakit bahkan bisa mengajukan bantuan Vent-I melalui formulir yang tersedia di situs web vent-i.org. Selanjutnya, tim akan menggali informasi mengenai rumah sakit, fasilitas kesehatannya, akses, juga mengonfirmasi langsung kepada rumah sakit yang bersangkutan.

Rata-rata, total sebanyak 20 – 25 unit Vent-I perhari didistribusikan dengan jumlah yang berbeda di setiap rumah sakit. Untuk wilayah Bandung, tim mengantarkan Vent-I langsung ke rumah sakit sedangkan untuk di luar kota, pengiriman dilakukan melalui jasa ekspedisi. Setelah Vent-I diterima rumah sakit, tim akan melakukan follow up sebagai after sale service. Melalui follow up ini, tim dapat mengetahui seberapa besar pengaruh Vent-I terhadap rumah sakit yang bersangkutan. Banyak rumah sakit mengaku terbantu dengan adanya Vent-I. Pernapasan pasien menjadi terbantu, bahkan ada yang sudah sembuh.

Dalam wawancara dengan Ir. Hari, beliau menjelaskan bahwa pemerintah turut membantu dalam distribusi Vent-I ini. Agar Vent-I dapat didistribusikan di seluruh Indonesia, Vant-I harus mendapatkan izin edar. “Pemerintah sangat membantu dalam mempermudah perizinan.” ujar Ir. Hari. Terakhir, beliau memberikan pesan, “COVID-19 ini memberikan pelajaran yang sangat berharga, di mana kita sebagai bangsa harus memiliki ketahanan dalam kesehatan. Jangan bergantung pada negara lain.” [Arsyad]

Read More →

Uncategorized

Dokter Sosialisasikan Vent-I

Meningkatnya kasus positif COVID-19 menyebabkan kebutuhan ventilator di Indonesia maupun dunia terus meningkat. Menanggapi hal itu, ITB, Unpad, dan YPM Salman ITB selaku inventor Ventilator Indonesia “Vent-I” terus memproduksi Vent-I untuk mengejar target 900 unit hingga akhir Juni mendatang. Lantas, apa pentingnya ventilator untuk mengatasi COVID-19 ini?

Jumat (12/06/2020), dr. Reza Widianto Sujud bersama dr. Ike Sri Redjeki menyosialisasikan penggunaan Vent-I melalui webinar yang diselenggarakan oleh ITB, UNPAD, dan YPM Salman ITB. Webinar yang dimoderatori oleh M. Kamal Muzakki ini dapat diikuti oleh semua pelaku rumah sakit di seluruh Indonesia. Melalui webinar ini, kedua dokter anestesi tersebut memaparkan peran ventilator dalam mengatasi COVID-19 sekaligus mengenalkan ventilator karya anak bangsa ini kepada semua rumah sakit di Indonesia.

COVID-19 merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus SARS-CoV-2 yang bersifat contagious, mudah menular. “Perubahan yang terjadi di dalam tubuh tadinya tidak dikenali. Namun, seiring berjalannya waktu, kita ketahui bahwa infeksi ini umum seperti infeksi-infeksi lain.” demikian paparan dr. Ike yang membuka sesi pertama webinar.

Virus yang masuk ke dalam paru-paru akan akan mengakibatkan peradangan pada alveoli sehingga alveoli terlapisi oleh cairan. Alveoli sendiri merupakan unit terkecil paru-paru yang berperan dalam pertukaran oksigen dan karbon dioksida. Karena itu, alveoli bersinggungan langsung dengan kapiler darah yang membawa karbon dioksida. Proses peradangan alveoli tersebut membuat pertukaran oksigen menjadi terhambat. Akibatnya, pasien mengalami hipoksia, yaitu kekurangan oksigen.

Untuk mengatasi hipoksia, perlu dilakukan terapi oksigenasi. Terapi ini harus dilakukan sejak awal untuk menghindari kerusakan yang lebih parah. Bila hipoksia masih ringan, dapat dilakukan terapi dengan low flow oxygen. Pada kasus yang lebih berat, perlu digunakan high flow oxygen. Terapi high flow oxygen ini memerlukan high-flow nasal cannula (HFNC) dan continuous positive airway pressure (CPAP). Di dalam HFNC, udara dihumidifikasi dan dihangatkan sehingga dapat diterima tubuh pasien. Sementara, CPAP berfungsi untuk memberikan tekanan positif secara kontinu untuk membuka saluran pernapasan pasien. Vent-I di sini merupakan salah satu contoh CPAP.

Penjelasan mengenai Vent-I kemudian dilanjutkan oleh dr. Reza Widianto Sujud di sesi kedua. Setelah menjelaskan latar belakang terciptanya Vent-I, dr. Reza kemudian menjelaskan mengenai cara penggunaan Vent-I. Vent-I terdiri dari beberapa komponen seperti ventilator, tabung CPAP, masker, dan selang. Untuk mengoperasikan Vent-I, pertama botol harus diisi dengan air sampai garis batas. Air ini dapat dicampur dengan zat antimikroba untuk membunuh kuman yang keluar dari proses ekspirasi. Selanjutnya, selang disambungkan pada botol dan keran ventilator. Terdapat tiga slot pilihan positive-end expiratory pressure (PEEP) pada botol, yaitu 5 cmHg, 10 cmHg, atau 15 cmHg. Keran ventilator kemudian diputar pada PEEP yang sesuai dengan botol. Kemudian, ventilator dinyalakan dengan menekan tombol switch. Selanjutnya, beliau menjelaskan mengenai pengaturan tekanan mesin pada ventilator. Tekanan ini harus disesuaikan dengan tekanan PEEP.

“Ventilator ini terus dikembangkan. Saat ini, sudah compatible dengan rumah sakit.” papar dr. Reza. Beliau juga menjelaskan kekurangan Vent-I ini yang terletak pada suara pompanya. Dibandingkan ventilator yang ratusan juta, Vent-I masih mengeluarkan suara yang berisik. Meski demikian, akan terus dilakukan pengembangan ke depannya.

Tentu saja webinar ini tidak dilakukan tanpa tindak lanjut. Setelah memahami Vent-I, pihak rumah sakit dapat mendaftarkan pengajuan ventilator ini. “Saat ini masih ada 800 unit amanah dari masyarakat Indonesia. Dananya dari masyarakat Indonesia jadi kami berkewajiban untuk memberikannya secara cuma-cuma.” Demikian penjelasan moderator. [Arsyad]

Read More →

News

Kemenkes Terima Hibah Vent-I

Ventilator Indonesia “Vent-I” yang sampai saat ini telah disebarkan sebanyak 139 unit kini diperkenalkan secara resmi kepada Menteri Kesehatan Indonesia, dr. Terawan Agus Putranto pada Jumat (19/06/2020). Dalam acara hibah Vent-I di kantor Kementerian Kesehatan ini, Dr. Syarif Hidayat selaku inventor utama sekaligus ketua tim memperkenalkan dan menyerahkan secara simbolis teknologi Vent-I kepada Menteri.

“Alat ini sudah lolos uji klinis. Akhir Juni ini, ditargetkan untuk diproduksi hingga 900 unit atas dasar pesanan masyarakat. Antusiasme masyarakat sangat luar biasa dalam menghadapi COVID-19 ini. Sampai saat ini, sudah 139 yang disebarkan di seluruh Indonesia.” Demikian Dr. Syarif mengenalkan. “Vent-I ini merupakan teknologi hasil kolaborasi.” tambahnya. Seperti yang kita ketahui, banyak pihak yang terlibat dalam pembuatan Vent-I. Selain ITB, Unpad, dan YPM Salman ITB, produksi Vent-I juga melibatkan Polman, Polban, Nurtanio, UPI, Itenas, bahkan SMK.

Foto bersama Tim Vent-I bersama jajaran Kementerian Kesehatan

Acara serah terima ini juga turut dihadiri oleh Dr. Rino dan Ir. Mipi Ananta yang mewakili rektor ITB, Rizky Abdullah Ph.D dan dr. Reza Sujud yang mewakili rektor Unpad, serta Ir. Hari Utomo sebagai perwakilan YPM Salman ITB. Dari pihak kementerian, pejabat eselon satu seperti sekjen juga turut hadir. Atmosfer kebanggaan dan semangat berinovasi terasa di sepanjang acara.

“Tidak berhenti di ventilator saja, saat ini kami juga sedang mengembangkan alat kesehatan lain seperti oral suction, tudung pasien untuk menghasilkan negative chamber. Jadi, tidak perlu seluruh ruangan dibuat menjadi negative pressure. Kemudian, ada juga baju astronot untuk dokter yang melakukan operasi.” papar Dr. Syarif.

Dr. Syarif dan jajarannya mendemonstrasikan kepada Bapak Menteri mengenai penggunaan Vent-I

Menanggapi semangat berinovasi Dr. Syarif, Bapak Menteri turut mengusulkan sebuah ide. “Gelombang suara kan bisa dipakai untuk mengusir tikus, kecoa, dan mematikan kanker. Bahkan genom bisa berubah karena gelombang suara. Mungkin bisa dicoba untuk dikembangkan sehingga bisa membunuh virus. Kalau tidak membunuh, setidaknya menonaktifkan.” papar beliau. Bapak Menteri merasa sangat senang apabila ini benar-benar bisa dibuat. “Bila berhasil dibuat, akan menjadi terobosan dunia. Kita akan menghebohkan dunia kalau menemukan cara yang efektif dan jauh lebih murah daripada vaksin.” imbuh beliau. “Kalau belum berhasil, setidaknya bisa membuat pergi semut.” canda beliau.

Dr. Syarif sendiri menanggapai ide Menteri sebagai sebuah tantangan. Kemudian, beliau melanjutkan, “Ventilator ini akan diproduksi oleh sebuah anak perusahaan dari Jepang yang akan memproduksi 10.000 ventilator untuk pasar ekspor. Perusahaan ini sudah memiliki izin untuk memasarkan produk ke negara-negara Amerika, Kanada, Jepang, Tongkok, Korea, dan Eropa. Itu menunjukkan bahwa kita memiliki kemampuan untuk membuat desain produk teknologi kesehatan yg diakui oleh negara-negara maju seperti Jepang.”
Menanggapi hal itu, Menteri Kesehatan menyarankan agar ventilator diajukan BPPT sehingga mendapatkan pengakuan sebagai produk nasional. Dengan demikian, negara dapat melindungi produk tersebut. “Persaingan internasional itu ada yang sehat dan tidak sehat.” ujar beliau.

Sebelum acara diakhiri, Dr. Syarif dan jajarannya mendemonstrasikan kepada Bapak Menteri mengenai penggunaan Vent-I. Tim juga memaparkan kelebihan-kelebihan Vent-I dan rasa bangganya atas produk sendiri. “Rasanya berbeda ketika bekerja menggunakan ventilator ini. Merah putihnya terasa.” ujar dr. Reza. [Arsyad]

Read More →

News

Penyerahan Donasi Vent-I dan Hospital Bed PMPI

“Saya tidak melihat dari besaran uang yang diberikan, melainkan sebuah nilai dari adanya kolaborasi bersama antara masyarakat pasar modal, produsen dari Trisula, ITB, dan UNPAD yang bersama-sama menghadapi permasalahan bangsa.” Begitulah ujaran Dirjen Pelayanan Kesehatan Kemenkes; dr. Bambang Wibowo yang menggambarkan kegiatan penyerahan donasi oleh Pasar Modal Peduli Indonesia (PMPI) pada Rabu (17/06/2020).

Tim Vent-I sedang menjelaskan cara penggunaan Vent-I pada acara penyerahan donasi oleh Pasar Modal Peduli Indonesia (PMPI)

Sesuai yang disampaikan dr. Bambang dalam pidatonya, penyerahan donasi kali ini merupakan wujud dari kerja sama antara pelaku pasar modal sebagai donatur serta Trisula Corporation, ITB, UNPAD, serta YPM Salma ITB sebagai produsen teknologi. Direktur Bursa Efek Indonesia; Inarno Djajadi, menyampaikan bahwa donasi yang terkumpul dari seluruh pelaku pasar modal Indonesia mencapai Rp2.887.197.511.

Donasi yang ditujukan kepada tiga rumah sakit rujukan COVID-19 ini bukan berupa uang, melainkan teknologi Ventilator Indonesia “Vent-I” hasil karya tim pengembang dari ITB, Unpad, dan YPM Salman ITB serta hospital bed buatan PT Chitose International yang merupakan bagian dari Trisula Corporation. Ketiga rumah sakit ini adalah RSUD Kabupaten Kediri, RSUD Ir. Soekarno Kab. Sukoharjo, dan RSUD Syarifah Ambami Rato Ebu Kab. Bangkalan. Sebanyak 50 pcs hospital bed dan 100 pcs Vent-I berhasil didonasikan melalui acara ini. Donasi diserahkan melalui RSUP Fatmawati Jakarta sebagai perwakilan.

Dr. Mochamad Syafak Hanung selaku Direktur Utama RSUP Fatmawati menyampaikan bahwa kebanyakan kematian terjadi di ruang ICU. Oleh karena itu, pemberian Vent-I ini akan sangat membantu dalam mempermudah penanganan pasien, sehingga lebih cepat dan lebih baik. “Ketika melayani pasien COVID-19, di kiri kanan ada teman-teman yang membantu melalui donasi,” imbuh beliau.

Acara yang digelar di gedung Bursa Efek Indonesia yang juga dihadiri oleh tim Vent-I ini bukan saja sebagai penyerahan donasi semata, melainkan juga ajang untuk menunjukkan kemampuan bangsa dalam bahu-membahu menghadapi persoalan. “Meningkatkan daya tahan bangsa,” sebut dr. Bambang Wibowo.

Melalui acara ini, kita juga dapat melihat bahwa bangsa dapat bergerak secara kreatif dalam menyelesaikan masalah. Tak hanya pihak ITB dan jajarannya yang tergerak untuk mengembangkan Vent-I, PT Chitose International yang sampai saat ini dikenal sebagai produsen furnitur juga menunjukkan kreativitasnya. “Diperlukan diversifikasi produk,” ujar Fajar Swatyas selaku direktur PT Chitose International. “Juni ini, Chitose berhasil memproduksi origami bed, kombinasi antara ranjang karton dan kasur polietilen ramah lingkungan,” lanjut beliau dalam pidatonya.

Ketiga perwakilan RSUD penerima donasi turut menghadiri acara melalui video conference. Restu Gunawan, perwakilan RSUD Kabupaten Kediri mengaku bahwa donasi ini sangat dibutuhkan oleh pihak rumah sakit. Sebagai penutup, ketiga perwakilan rumah sakit menyampaikan rasa terima kasihnya kepada para donatur. [Arsyad Maulana]

Read More →

News

Vent-I: Produk Inovasi Unggulan Anak Bangsa untuk Percepatan Penanganan Covid-19

Sebanyak 55 produk hasil riset dan inovasi anak bangsa resmi diluncurkan pada hari Rabu, tanggal 20 Mei 2020 yang lalu. Peresmian ini dilaksanakan di Istana Merdeka, Jakarta dan diresmikan langsung oleh Presiden Republik Indonesia Joko Widodo. Produk-produk unggulan karya anak bangsa yang dibuat sebagai upaya percepatan penanganan Covid-19 tersebut antara lain: RT-PCR, test kit, rapid diagnostics test IgG/IgM, emergency ventilator, imunomodulator, terapi plasma convalescent, unit laboratorium bergerak dengan biosafety level (BSL) 2, kecerdasan buatan pendeteksi Covid-19 dari hasil sinar-X, robot medis dan penyinaran UV, serta air purifying respirator.

Kebangkitan Inovasi Indonesia | Peluncuran Produk Inovasi COVID-19

Dalam acara yang bertajuk “Kebangkitan Inovasi Indonesia” tersebut bertepatan dengan momentum Hari Kebangkitan Nasional yang turut menandai kebangkitan bidang sains dan teknologi nasional, utamanya di bidang Kesehatan. “Dunia sedang beradu cepat dalam menangani wabah Covid-19. Kita harus menjawabnya dengan inovasi dan karya-karya nyata yang konkret. Ini adalah momentum baru bagi kebangkitan bangsa. Ini adalah momentum baru kebangkitan bidang sains dan teknologi kita, khususnya di bidang kesehatan,” ujar Presiden dalam sambutannya melalui telekonferensi dari Istana Merdeka, Jakarta.” ujar Presiden dalam sambutannya melalui siaran video telekonferensi dari Istana Merdeka, Jakarta.

Vent-I sebagai salah satu dari inovasi produk unggulan yang diluncurkan dalam acara tersebut sudah sangat siap diproduksi secara massal untuk segera dirasakan manfaatnya dalam mempercepat penanganan Covid-19. Presiden Joko Widodo bahkan sehari sebelum dilaksanakan peluncuran telah melihat dan menguji langsung kegunaan alat Ventilator Vent-I di Istana Merdeka, Jakarta. Presiden Joko Widodo sangat mengapresiasi Vent-I karena ini merupakan produk karya anak bangsa yang bisa dibuat sendiri sehingga tidak perlu impor dan juga Vent-I siap diproduksi secara massal, serta sudah lulus uji klinis sehingga aman untuk digunakan.

Terakhir, dalam sambutannya Presiden Joko Widodo mengajak semua kekuatan anak bangsa untuk bekerja sama dan berkolaborasi dalam percepatan penanganan Covid-19. “Sudah saatnya dunia industri harus berani berinvestasi, sudah saatnya masyarakat juga mulai mencintai produk-produk dalam negeri, dan kita harus bangga buatan Indonesia. Kita harus terus-menerus memperbaiki ekosistem yang kondusif. Ekosistem bagi tumbuh dan berkembangnya inovasi dan industrialisasi serta mentalitas bangga kepada produk dalam negeri,” Ucap Presiden mengakhiri sambutannya. [ Fajar ]

Read More →

Uncategorized

Vent-I Lolos Uji Klinis

Setelah berhasil melewati serangkaian proses uji fungsi dan uji ketahanan, Ventilator Indonesia atau Vent-I berhasil melalui tahapan uji klinis. Penyelia Uji Klinis Dokter Reza Widianto Sudjud mengatakan pelaksanaan uji klinis telah dilakukan di 9 Rumah Sakit. Hasilnya pun sudah disampaikan oleh dr. Reza dan tim ke Direktur Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan-Kementerian Kesehatan (Kemenkes) pada 13 Mei 2020.

“Uji klinis sudah diterima hasilnya oleh Kemenkes dan mereka melihat hasilnya layak, Vent-I ini sudah layak diproduksi massal,” ujar dr Reza, Sabtu (16/5/2020).

Menurut Reza, tahapan uji klinis dimulai dari pengisian formulir pengujian, pembuatan proposal, sidang kode etik yang dilakukan sebelum penggunaan Vent-I ke pasien, koordinasi dengan rumah sakit pelaksana uji klinis, dan pelaporan hasil uji klinis.

“Juga beberapa persyaratan permohonan persetujuan uji klinis alat kesehatan prapemasaran sesuai Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 63 Tahun 2017 tentang Cara Uji Klinik Alat Kesehatan yang Baik,” jelasnya.

Ventilator CPAP Vent-I diuji selama dua pekan di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung, RS Advent Bandung, Santosa Hospital Bandung Central, RSUD Al-Ihsan, RS Tk.II Dustira, RS Paru Rotinsulu, Rumah Sakit Melinda 2, RS dr. Suyoto Pusrehab Kemhan, dan Rumah Sakit Umum Daerah Cibabat – Cimahi.

“Kita ujikan Vent-I kepada total 13 pasien di 9 rumah sakit,” katanya.

Beberapa parameter yang dipantau saat pelaksanaan uji klinis diantaranya efek penggunaan mesin terhadap nilai oksigenasi pasien yang dinyatakan dengan nilai SpO2, laju napas pasien, nadi pasien, dan tekanan darah pasien. Selain itu stabilitas tekanan PEEP yang tercipta, tingkat kenyamanan pasien selama menggunakan alat, stabilitas mesin, tingkat kebisingan mesin, dan kelistrikan dari mesin selama digunakan kepada pasien juga termasuk dalam pengukuran.

Reza menerangkan hasil uji klinis menunjukkan kondisi pasien mengalami perbaikan. Hal ini dikarenakan oksigenisasi pada pasien menjadi lebih baik sehingga fungsi organ menjadi baik pula. Terihat perubahan saturasi oksigen yang membuat pernapasan pun membaik.

“Ini dibuktikan dari laju napas pasien yang stabil dan pola pernapasan pasien yang tadinya sesak menjadi lebih baik. Kondisi darah yang teroksigenisasi akan membuat pasien menjadi nyaman. Kesadaran pasien selalu terjaga karena adanya oksigen dalam darah, sehingga rasa nyaman pun dirasakan oleh pasien,” ujarnya.

Untuk stabilitas dan kelistrikan, hasil penelitian menunjukkan bahwa alat ini tidak memiliki kendala seperti mati mesin mendadak selama penelitan 48 jam, atau kelebihan kapasitas dan tegangan yang meningkatkan risiko pasien tersengat listrik. Oleh karena itu, mesin ventilasi dapat digunakan dengan baik untuk memperbaiki ventilasi pasien. Perbaikan ventilasi terlihat jelas dari laju napas yang stabil, tekanan darah yang menurun, laju nadi yang melambat, dan kenyamanan pasien setelah diberikan ventilasi.

“Walaupun demikian, kebisingan mesin akibat kerja dari komponen pompa udara masih menjadi salah satu hal yang dapat diperbaiki ke depannya,” ucap Reza.

Uji klinis diperlukan untuk memenuhi persyaratan guna mendapatkan izin edar. Diharapkan alat ini membantu pelayanan medis kepada para pasien Covid-19 yang mengalami hipoksia pada fase awal dan menengah.

“Supaya pasien dapat dicegah masuk ke fase berat dimana angka kematian nya mencapai 60-100%. Dengan dinyatakan lolos uji klinis maka Vent-I layak beredar dan dipakai secara luas,” ujarnya. [Sinta dan Fathia]

Read More →